cool hit counter

PCIM Turki - Persyarikatan Muhammadiyah

 PCIM Turki
.: Home > Artikel

Homepage

Berdakwah di Bumi Utsmani

.: Home > Artikel > Pimpinan Pusat
20 Desember 2015 04:14 WIB
Dibaca: 530
Penulis : Muhammad Iqbal Nurmansyah

Sekilas Turki

Republik Turki  (bahasa TurkiTürkiye Cumhuriyeti) adalah sebuah negara besar di kawasan Eurasia. Wilayahnya terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Daya dan daerah Balkan di Eropa Tenggara. Turki berbatasan dengan Laut Hitam di sebelah utara; Bulgaria di sebelah barat laut; Yunani dan Laut Aegea di sebelah barat; Georgia di timur laut; ArmeniaAzerbaijan, danIran di sebelah timur; dan Irak dan Suriah di tenggara; dan Laut Mediterania di sebelah selatan. Laut Marmara yang merupakan bagian dari Turki digunakan untuk menandai batas wilayah Eropa dan Asia, sehingga Turki dikenal sebagai negara transkontinental.

Istanbul, satu-satunya kota didunia yang berada di antara dua benua menjadi ikon Negara ini. Belum ke Turki kalau belum ke Istanbul dan belum ke Istanbul kalau belum ke Hagia Sofia. Hagia Sofia dulunya merupakan sebuah gereja yang kemudian dirubah menjadi masjid dimasa kepemimpinan Sultan Mehmed II atau terkenal dengan nama AlFatih setelah berhasil menaklukan Konstantinopel pada tahun 1453. Fungsi masjid berakhir pada tahun 1937 dimana oleh Mustafa Kemal Attaturk dirubah menjadi museum dan berlaku hingga saat ini. Disebrang Hagia Sofia kita akan menemukan Blue Mosque atau Masjid Sultan Ahmed yang tidak kalah terkenalnya itu.

Ya, membicarakan Turki mungkin tidak akan pernah lepas dengan sejarah Kekhalifahan Utsmani. Mungkin masih banyak orang yang beranggapan Turki adalah bagian dari timur tengah bahkan tak jarang ketika mendengar pelajar yang belajar disini mereka akan mengira masyarakat Turki menggunakan bahasa Arab dalam bahasa kesehariannya. Secara agama, hampir 98% penduduk Turki beragama Islam namun . Era modern Republik Turki yang terbentuk pada tahun 1923 menjadi penanda runtuhnya masa kekhalifahan Usmani, kekalifahan terakhir di dunia. Setelah itu, Turki pun mengalami perubahan dari kesultanan menjadi Negara sekuler.

Di awal masa terbentuknya Republik Turki, Islam di Turki mengalami kemunduran. Attaturk atau dalam bahasa Turki berarti Bapak Turki yang juga sebagai Presiden pertama disini melarang emblem-emblem keislaman. Bahkan pada tahun 1928 dirubahnya penggunaan huruf Utsmani yang waktu itu menggunakan huruf arab kedalam bentuk huruf latin dan lahirnya Çağdaş Türkçe atau Bahasa Turki modern.

Karena sistem sekuler yang digunakan, Turki mengalami masa dimana jumlah masjid dibatasi, pelajaran agama dilarang diajarkan disekolah dan pada tahun 1932 adzan yang dikumandangkan pun harus dengan bahasa Turki. Dalih untuk membangun Negara Turki dengan identitas Turki itu sendiri ternyata bagian dari skenario untuk menghapuskan jejak kekhalifahan yang kental dengan keislaman dan memulai kehidupan Turki yang berkiblat dengan dunia barat dengan jalan sebagai Negara sekuler.

 

Sekulerisme di Turki

Meskipun satu persatu kebijakan sekuler yang cukup ekstrem itu mulai dihapuskan seperti sudah dikembalikan lagi izin untuk mengumandangkan adzan dalam bahasa Arab serta pemakaian jilbab untuk pelajar dan pekerja baik pemerintah maupun swasta, namun darah sekuler masih kental mengalir khususnya pada generasi muda Turki saat ini. Tak jarang mereka berteriak lantang sebagai seorang muslim namun mereka tidak tahu bagaimana cara menegakkan sholat dan masih rajin menyambangi kafe sambil menikmati sebotol beer dan menghisap rokok.

Berbicara sekulerisme, penulis juga memiliki pengalaman saat berdiskusi dengan di kelas yang kala itu membahas kekerasan terhadap wanita. Penulis terkejut dengan pernyataan seorang dosen bahwa agama bisa menjadi sumber kekerasan terhadap wanita dimana kala itu ia menjelaskan sebuah ayat yang memperbolehkan pria memukul wanita. Dosen lain pun seperti mengamini dan ada yang berkata bahwa sekulerisme menjadi kunci majunya sebuah negara. Dalam kesempatan lain, penulis juga pernah mendengar orang pribumi berkata bahwa agama juga sebagai sumber peperangan dan perpecahan umat manusia.

Jangan heran juga kalau banyak anak muda disini tidak bisa membaca Al-Quran, bahkan dapat dikatakan banyak bapak-bapak dan ibu-ibu yang tidak mengenal huruf hijaiyyah. Mungkin ini akibat dari larangan pendidikan agama diajarkan disekolah. Jika dari pihak keluarga pun tidak mendukung, keturunan mereka tidak akan pernah mendapatkan ilmu agama yang akhirnya membawa mereka kepada ketidaktahuan.

Seperti cerita salah satu mahasiswa yang belajar di jurusan Ilmu Pendidikan Bahasa Turki. Mereka mendapatkan mata kuliah Bahasa Utsmani dimana akan belajar menggunakan huruf Arab. Mata kuliah ini tergolong mata kuliah yang cukup sulit di jurusan tersebut selain menggunakan bahasa Turki lama, yang menjadi kendala utama juga penggunaan hurufnya. Diawal pertemuan mereka mendapatkan pelajaran tentang pengenalan huruf yang digunakan dalam bahasa Utsmani. Mereka belajar bagaimana itu Alif dan huruf ba’ yang menjadi simbol huruf b. Tahap selanjutnya mereka mendapatkan penjelasan bagaimana cara menyambung huruf-huruf tersebut. Pelajaran itu diberikan karena tidak semua mahasiswa mengenal huruf arab sebelumnya. Ini menunjukkan keprihatinan bahwa masih banyak masyarakat Turki yang mengaku seorang muslim namun tidak memiliki kesadaran akan kewajiban mereka dan mereka masih dalam kungkungan ketidaksadaran karena ketidaktahuan mereka selama ini. Kondisi tersebut mungkin juga akibat upaya orang-orang terdahulu yang mencoba menjauhkan mereka dari simbol-simbol keislaman.

Terlepas dari itu semua, saat ini sudah mulai bermunculan tempat untuk belajar membaca AlQuran seperti TPA yang ada di Indonesia.Namun disebutkan metode yang digunakan untuk belajar Al-Quran disini adalah dengan tulisan Turki.Semisal “Waw” mereka membaca seperti huruf Turki ü(U lebih lembut) sehingga biasanya banyak kesalahan dalam tajwid.

Jika melihat akhlak masyarakat Turki, dapat dikatakan akhlak masyarakat di sini sangatlah baik. Penulis sendiri sering mendapatkan pertolongan dari masyarakat sekitar ketika mengalami kesulitan. Selain itu, masyarakat disini juga memiliki kalimat-kalimat yang santun dan baik ketika berkomunikasi seperti “semoga dimudahkan” ketika melihat orang yang sedang bekerja, “semoga Allah meridhoi” ketika mendapatkan bantuan dan lain sebagainya.

Namun dalam hal ibadah seperti shalat dan mengaji, kondisinya dapat dikatakan masih jauh panggang dari api. Dalam hal shalat, jika ditanyakan kenapa tidak shalat, dengan entengnya mereka menjawab nanti kalau sudah tua. Bahkan mereka bisa menjawab akan berpikir lagi untuk memulai sholat sehingga tak heran jika pemandangan masjid-masjid indah di Turki ini hanya penuh dengan orang yang sudah berumur.

Banyak celetukan dari pemuda disini bahwa mengkui diri mereka muslim, menjadi bagian dari agama yang paling sempurna, mengakui adanya Allah SWT dan Attaturk yang menyelamatkan Turki sehingga mereka bisa merdeka seperti saat ini adalah cukup. Pemikiran-pemikiran yang diciptakan Attaturk yang kemudian ditanamkan kepada keturunan Turki saat ini yang notabene adalah pemikiran sekuler menjadi salah satu batu yang mengganjal. Begitu kuatnya rasa cinta mereka terhadap Attaturk membuat mereka bertahan untuk tidak menoleh kepada keislaman meskipun mereka mengakui bahwa mereka seorang muslim.

Melihat kondisi Turki saat ini, dibawah pimpinan Recep Tayyip Erdogan, dapat dikatakan bahwa nilai-nilai Islam telah muncul kembali di bumi Usmani ini. Dalam pemerintahannya, banyak kebijakan sekuler diubah menjadi kebijakan yang mendukung nilai keIslaman seperti pembebasan penggunaan jilbab di sekolah dan pembangunan masjid di setiap universitas. Namun disisi lain, banyak penentangan dari masyarakat yang menganggap kebijakan itu membawa mereka kepada kemunduran dan membuat Turki semakin jauh menjadi bagian dari Eropa seperti yang dicita-citakan dari awal sebagai Turki Modern serta kebijakan-kebijakan tersebut seolah menghapus jejak Attaturk yang sangat dicintai Rakyat Turki. Bisa dikatakan fanastisme mereka kepada Attaturk jugalah yang membuat mereka tidak mau menerima nuansa Islam di Turki.

Turki yang dikatakan sebagai gerbang antara Barat dan Timur banyak menarik perhatian masyarakat dunia. Banyaknya mahasiswa asing yang mulai berdatangan menjadi warna yang baru untuk Turki dan kehidupan beragama disini. Banyak kawan-kawan dari Negara lain yang baru mengenal Islam karena kedatangannya di Turki. Mereka yang juga hidup di Negara Sekuler banyak yang mulai tertarik belajar Agama dari sini, meskipun ada juga yang mulai menanggalkan apa yang sudah diketahui karena lingkungan barunya.

 

Kondisi lain di Turki

Selain sekulerisme, tak sedikit masyarakat disini juga yang taat beribadah. Banyak juga masyarakat sini yang sudah berhaji dan membuat organisasi kemanusiaan dan yayasan keagamaan. Di Turki juga dikenal banyak gerakan yang menganut nilai-nilai keIslaman seperti Gülen Movement yang terkenal dengan gerakan pendidikan dan gerakan hizmetnya. Selain itu juga ada Süleymancılar, Nurcu dan kelompok lain yang punya ciri khas masing-masing dalam menyebarkan agama Islam.

Selain itu, beberapa tahun terakhir Turki juga mulai dibanjiri oleh mahasiswa asing dari berbagai negara. Pemandangan yang indah ketika menemukan sekelompok mahasiswa Internasional yang kadang memisahkan diri sebagai awal adaptasi di tahun pertama kedatangannya disini. Ketika dalam kelompok tersebut didominasi oleh teman-teman muslim yang taat dan mencerminkan kerahaman serta perdamaian dalam bergaul, banyak teman-teman lain yang tak mengenal Islam atau datang dari Negara sekuler lain merasa bersimpati yang kemudian membawa mereka untuk mengenal Islam lebih dalam sehingga jalan dakwah terbuka lebih lancar. Bagaimana sikap dan pembawaan kitalah yang pertama kali menjadi perhatian orang yang tidak mengenal kita.Ini menjadi poin penting ketika harus hidup dalam lingkungan yang baru yang serba asing in. Seperti pepatah bahwa orang baik akan bertemu orang-orang yang baik juga.

Jika melihat warga Muhammadiyah disini, dengan adanya segudang aktifitas, serta telah lunturnya nilai ke-Muhammadiyahan menjadikan tantangan dalam mengadakan berbagai kegiatan kegamaan terutama dalam upaya pembentukan Pengurus Cabang Istimewa Turki (PCIM Turki). Menjadi pekerjaan bersama baik warga Muhammadiyah di Turki dan PP Muhammadiyah untuk bisa membangkitkan lagi semangat ber-Islam dan ber-Muhammadiyah para kader dan simpatisan Muhammadiyah di Turki.

 

Berdakwah di Turki

Penyampaian secara logis dibarengi pemahaman yang kuat akan ke-Islaman menjadi salah satu kebutuhan dalam menghadapi dunia baru, kita akan menemukan banyak pertanyaan yang tidak terduga tentang apa yang kita lakukan khususnya masalah keagamaan. Dengan latar belakang mereka yang bermacam-macam, kita harus mampu menemukan jalan tengah yang bisa diterima semuanya ketika kita ingin menyampaikan barang satu ayat.

Dalam berjuang untuk mencerahkan, membuat kita lebih berhati-hati dalam bersikap karena sikap menjadi cerminan kepercayaan seseorang. Disini juga kita belajar bagaimana menebarkan pemahaman agama yang benar sehingga tidak ada lagi kesalahan pemahaman oleh orang-orang sekuler terhadap agama Islam seperti yang penulis sebutkan sebelumnya.

Melihat semakin banyaknya corengan Islam saat ini, seperti terorisme dan kelompok radikal, juga menjadi tugas penting bagi setiap umat muslim untuk membersihkan corengan tersebut sehingga Islam benar-benar menjadi agama yang Rahmatan Lil Alamin. Dengan cara perdamaian kita menyampaikan kepada mereka yang belum mengenal Islam, kembali merangkul saudara-saudara kita yang terjebak ke dalam jalan yang sesat dan menjembatani teman-teman kita yang belum beruntung karena terlahir di lingkungan yang jauh dari pemahaman tentang Islam.

 

 

 


Tags: Sejarah , Usmani
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori : Sejarah

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website