cool hit counter

PCIM Turki - Persyarikatan Muhammadiyah

 PCIM Turki
.: Home > Artikel

Homepage

Opini 6 | Mengembalikan Kejayaan Politik Islam (bag. 3)

.: Home > Artikel > Pimpinan Pusat
02 Mei 2019 21:22 WIB
Dibaca: 117
Penulis : J. Ramadhan, M.Si (Mahasiswa Doktoral - Uludağ University)

Indonesia & Turki: Quo Vadis?

Mengapa Indonesia dan Turki? Karena dua negara ini tidak hanya terikat secara historis tetapi juga dalam konteks politis memiliki hubungan yang strategis hingga kini (Kemlu, 2018). Secara historis, hubungan Indonesia dan Turki telah dimulai sejak Kesultanan Aceh dan berlanjut secara diplomatik setelah negara Indonesia resmi berdiri yaitu tahun 1950. Indonesia dan Turki juga tergabung dalam beberapa international governmental organization seperti OIC (Organization of Islamic Countries Cooperation) dan G-20 (Group of Twenties) serta aktif memperjuangkan isu yang sama seperti kemerdekaan Palestina dan stabilitas Suriah. Selain itu, kedua negara juga memiliki threat yang sama ketika pelambatan ekonomi global yang mengakibatkan pelemahan nilai mata uang seiring menguatnya Dolar Amerika.

Tabel 1.1 Negara-negara yang Beresiko Mengalami Krisis Nilai Mata Uang

Sumber: Geopoliticalfutures.com (https://geopoliticalfutures.com/currency-crisis-2018/, 2019)

 

Indonesia dan Turki dalam studi geopoliticalfutures.com (2018) menghadapi resiko currency crisis akibat tidak seimbangnya cadangan devisa dan hutang luar negeri. Meski menghadapi perlemahan, Rupiah Indonesia mampu bertahan sementara Lira Turki semakin membaik. Penguatan Lira terus terjadi ketika mata uang lain seperti Euro berangsur melemah hingga 6 Februari 2019. Walau sempat menghadapi tekanan inflasi yang cukup tinggi, Turki masih menyempatkan diri untuk menolong korban tsunami di Sulawesi, bahkan Menteri Keuangan dan Perbendaharaan Albayrak yang langsung turun ke lapangan bersama Türk Kızılay pada Oktober 2018 dilansir dari TRT Haber(10/10/2018).

Pertalian kedua bangsa yang berlangsung kuat diharapkan mampu mendorong dunia Islam untuk bangkit kembali. Faktor geopolitik Turki yang menjadi penghubung dua benua Eropa dan Asia serta Indonesia yang menjadi penghubung dua samudra yaitu Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik dapat menjadi advantage point bagi kedua negara untuk mendorong negara-negara muslim yang berada diantara mereka. Selama inipun Indonesia dan Turki tidak pernah berseberangan kepentingan, sehingga cenderung berjalan beriringan dalam perpolitikan antar bangsa. Bangsa Turki mencintai saudaranya di Uzak Doğu (Timur Jauh) yaitu Indonesia, dan Bangsa Indonesia juga merindukan berada di negara Turki karena sejarah kejayaan umat Islam selama 6 abad ada di tanah Sultan Mehmet Sang Penakluk. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya wisatawan Indonesia ke Turki yaitu 85.031 pada 2017 (Kemlu, 2018). Sementara itu, 20.000 orang Turki juga telah datang ke Indonesia di tahun yang sama.

Jika ditinjau lebih jauh, khususnya hubungan dengan negara besar seperti Amerika Serikat, Indonesia dan Turki memainkan peran yang cukup unik. Bekerjasama tetapi tetap memiliki dignity serta sovereignty yang terjaga sebagai bangsa. Tidak mudah termakan politik oportunis Amerika Serikat, namun tetap berpendirian serta berkomitmen membela umat muslim yang berada dalam tirani di berbagai wilayah lain. Sepertihalnya membela kepentingan Palestina di PBB meski mempetaruhkan hubungan dagang dengan Amerika Serikat yang terjalin cukup kuat. Indonesia dan Turki juga memiliki people power atau grassroot yang robust, khususnya ketika menghadapi kekuatan asing atau membela kepentingan sesama muslim. Besar harapan kedua negara tetap bersatu-padu dalam menguatkan politik Islam di dunia sehingga dapat mencegah hagemoni Leviathan yang siap memangsa negara-negara lemah. Selesai. []


Tags: politik , islam , indonesia , turki
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori : Opini

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website