cool hit counter

PCIM Turki - Persyarikatan Muhammadiyah

 PCIM Turki
.: Home > Berita > Wajah Islam di Kota Mode

Homepage

Wajah Islam di Kota Mode

Selasa, 15-11-2016
Dibaca: 265

 

Hampir dua bulan saya di Polandia. Tak afdal rasanya jika belum melihat-lihat kemegahan arsitektur di seluruh sudut “Benua Biru” ini. Bermodalkan visa nasional tipe D Multiple Entries plus sedikit tabungan dari beasiswa dan tiga sahabat yang mau ikut serta bertualang, ya sudah cukuplah syarat untuk bertualang. Sebelum bertualang, kami niatkan untuk menunaikan shalat fardu di setiap masjid negara yang kami kunjungi. Lalu kalau bisa kami hearing and sharing dengan imam masjid tentang kehidupan muslim serta aktivitas dakwah di negara tersebut. Apalagi ini merupakan perjalanan pertama kami ke Benua Biru. Tentulah banyak kelucuan dan trial and error yang kami alami dalam perjalanan. Ibarat buku akan ada banyak jilid walaupun pengembaraan kali ini hanya sembilan hari saja.

Tak ada habisnya bercerita tentang keragaman dan keunikan sejarah bangsa Eropa. Satu sama lain saling terintegrasi. Setelah dari Munich, pemberhentian kami selanjutnya adalah Milan, kota mode. Bagi pemerhati busana, Milan merupakan kota “suci” di mana semua produk ternama dunia bermarkas di kota berpenduduk 1,3 juta ini. Gaya hidup fashionable menjadi tuntutan setelah Georgio Armani, Valentino Garavani, Itallo Zucchelli, Frida Giannini, dan Miuccia Prada menyulap dan menarik kiblat fashion dunia ke Kota Milan. Pusat perbelanjaan seperti pedestrian Via Monte Napoleone, Via Dante, dan The Galleria Vittorio Emanuele II merupakan sarang merek-merek fashion terkenal dunia juga motor penggerak ekonomi Milan.

Standar hidup orang-orang Milan pun lebih tinggi dibandingkan kota-kota lain di Italia, termasuk Roma. Milan adalah jantung tekstil dunia. Sama halnya dengan gaya hidup hidup orang Munich, standar mereka lebih tinggi dibanding orang Berlin. Jadi, wajar saja Munich merupakan kota industri mobil terbesar di Jerman, tanah kelahiran raksasa automotif dunia, BMW. Sayangnya, gaya hidup hedon membuat masyarakat lokal jadi angkuh. Muslim yang cenderung tak peduli dengan gaya berpakaian ala Barat dicap kolot dan tidak cocok dengan gaya hidup Milan.

Ketika sedang mencari masjid terdekat dari stasiun kereta, buruh porter asal Bangladesh bersukarela mengantarkan kami menuju masjid. Di jalan kami bertemu dengan Muhammad Sirajul Islam. Ia menyambut kami dengan ramah dan mengajak makan siang. Siraj adalah warga negara Bangladesh, lulusan kedokteran di salah satu universitas di Parma. Faktor lingkungan, banyaknya jumlah imigran, dan keluarga mendorong Siraj meninggalkan dunia kedokteran dan fokus mengelola sekaligus menjadi imam di masjid kecil Kota Milan.

Ada sekitar 15 masjid di Milan. Pada hari Jumat, setiap masjid tumpah ruah jamaahnya. Sayangnya, ketika shalat fardu jamaah hanya tersisa satu atau dua saf saja. Siraj punya jenggot lebat, memakai jubah, dan peci putih sehari-hari. Ia menjawab mantap bahwa tidak takut sama sekali dengan apa yang ia lakukan. Jika itu perintah Allah, maka tak perlu ragu dan tak perlu menghiraukan kicauan orang sekitar. Meski demikian, diskriminasi demi diskriminasi terus dirasakan sang imam muda ini. Misalnya, saat kepengurusan izin tinggal. Pihak imigrasi sengaja memperlambat proses dan melempar urusan ke petugas lain. Terkadang parpornya ditahan tanpa sebab dan ia, termasuk keluarganya, terus-menerus diawasi polisi.

Di Italia khususnya Milan, Islam punya konotasi buruk di telinga penduduk lokal. Untuk shalat pun benar-benar dibatasi. Masjid harus ditutup dan dikunci seusai shalat jamaah. Izin membuka masjid pun dipersulit, padahal jamaah shalat Jumat membeludak sampai ke pekarangan masjid, bahkan shalat Jumat pun harus dilakukan tiga gelombang. Aktivitas-aktivitas keagamaan di sini bersifat rahasia, terkadang dilakukan di rumah-rumah, sesekali di masjid. Namun, secara sembunyi-sembunyi. Azan pun tak boleh pakai pengeras suara.

Masjid di Italia kebanyakan berbentuk rumah ataupun ruko kecil yang dialihfungsikan jadi tempat ibadah. Tidak ada kubah atau menara. Hanya sebagian kecil saja yang benar-benar berbentuk seperti masjid seperti di Roma. Pamplet masjid pun hanya seukuran setengah papan tulis normal. Tak jarang musafir susah cari masjid. Di Milan, muslim dilarang shalat di jalan, taman, dan sebagainya.

Populasi muslim di Milan berasal dari imigran-imigran asal Bangladesh, Afrika Utara dan Afrika Timur. Mualaf asli Italia pun masih sedikit, misalnya, di masjid yang dikelola Siraj baru empat orang. Maklum, mayoritas penduduk Italia adalah pemeluk Katolik taat.

Muslim di Milan satu sama lain sangat solid. Walaupun tak ada perhimpunan khusus untuk muslim, kegiatan-kegiatan agama dan sosial terkoordinir dengan baik dan rutin dilaksanakan, termasuk membantu muslim lain yang sedang kesusahan. Betapa bersyukurnya kita yang tinggal di negara multikultural seperti Indonesia, di mana aktivitas dakwah bisa dilakukan kapan dan di mana pun. Tak ada kekhawatiran atau ketakutan untuk beribadah. Saudara-saudara kita di Eropa justru sebaliknya, hak beribadah dikekang oleh negara. 

Zulkhairi Arafah Faraby*

*alumnus Dayah Modern Darul Ulum, Mahasiswa Administrasi Bisnis Uludag University,  anggota PCIM Turki melaporkan dari Milan, Italia

Sumber: Aceh Tribunnews

http://aceh.tribunnews.com/2016/11/13/wajah-islam-di-kota-mode?page=1


Tags:
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori:



Arsip Berita

Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website